28/04/2018

Bookcrossing


Salah satu buku bookcrossing
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membaca buku. Mulai dari membeli buku dari toko, mendatangi perpustakaan, menyewa buku di rental, atau sekedar meminjam buku dari seseorang. Apalagi, dengan kemudahan mengirim barang seperti saat ini, meminjam buku dari seseorang yang berada di daerah lain juga bisa dilakukan. Tidak sekedar meminjam buku saja sebetulnya, saling bertukar buku bacaan antar pembaca yang tidak tinggal di area yang berdekatan juga memungkinkan.


Kalau ada di antara kalian yang suka membaca tanpa perlu harus membeli atau memiliki suatu buku, kalian bisa coba kegiatan yang bernama bookcrossing. Secara umum arti bookcrossing bisa dilihat di sini. Hanya saja, saya lebih suka mengartikan sebagai kegiatan 'menjalankan' buku dari satu pembaca ke pembaca yang lain. Buku berasal dari seseorang, yang kemudian dipinjam oleh calon pembaca selanjutnya sesuai dengan kesepakatan antara pemilik dengan peminjam. 


Aturan singkat tentang kegiatan bookcrossing
Di Indonesia, ada beberapa penyelenggara kegiatan bookcrossing. Sementara ini, saya baru mengetahui tiga penyelenggara seperti Mocco BukkuLoka Media, dan rlcrossing

Tentang peraturan atau kesepakatan antara pemilik buku (atau donor) tentu berbeda antara satu penyelenggara bookcrossing dengan yang lain. Mocco Bukku misalnya, mengundang siapa saja untuk berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Tidak hanya mengajak para pembaca untuk meminjam buku yang mereka sediakan, tapi juga mengajak siapa saja yang ingin menyumbangkan buku untuk terlibat dalam kegiatan ini. Prosedur peminjaman juga memakai sistem berantai. Peminjam yang telah menyelesaikan buku bacaan bisa mengumumkan lewat instagram agar bisa menemukan calon pembaca yang benar-benar berminat pada buku tersebut, serta menanggung ongkos kirim kepada calon pembaca tersebut. Selanjutnya, si penerima harus bersedia mengirimkan dan menanggung ongkos kirim kepada calon pembaca selanjutnya.

Nah, akankah kalian berminat ikut kegiatan bookcrossing ini? Jika ada di antara kalian yang berminat menjadi bookcrosser atau bahkan donor dalam kegiatan bookcrossing, segera saja hubungi akun-akun di atas dengan cara mengeklik nama-nama penyelenggara yang telah saya sebutkan. Ada akun yang menerima siapa saja ikut berbagi buku, tapi ada juga yang 'menghandle' sendiri pasokan buku yang dipinjamkan. Selamat mencoba :)




19/04/2018

Tempat Tes Bahasa Inggris di Surabaya


Beberapa minggu yang lalu, adik saya akan melamar suatu posisi pekerjaan di suatu kota tertentu. Ternyata, salah satu persyaratannya menyebutkan bahwa pelamar perlu melampirkan hasil tes bahasa Inggris dengan skor tertentu dari lembaga bahasa yang kredibel. Lalu, setelah mengetahui permintaan yang ada, adik saya mengajak saya untuk menemaninya mencari tempat tes bahasa Inggris di Surabaya.

Sebenarnya, kalau instansi yang membuka lowongan pekerjaan tersebut tidak meminta tempat tes secara spesifik, kita bisa dengan mudah menemukan tempat tes bahasa Inggris di sekitar kita. Dengan catatan, tempat penyelenggara tes sudah memiliki reputasi yang terpercaya. Namun bila pihak yang membuka lowongan meminta calon pelamar untuk melampirkan hasil tes dari lembaga tertentu, itu beda lagi ceritanya.

Kemudian, tempat apa saja yang bisa kita kunjungi untuk mendapatkan hasil tes bahasa Inggris? Sementara ini, saya bisa menyarankan dua tempat untuk dikunjungi. Yang pertama adalah pusat bahasa dari suatu universitas. Tentu saja, kita perlu memastikan pusat bahasa yang kita tuju mau menerima peserta tes dari jalur umum; jalur untuk selain mahasiswa dan karyawan dari universitas tersebut. Kedua, kita bisa mengunjungi tempat-tempat kursus bahasa Inggris yang terpercaya.

Beberapa universitas negeri dan swasta di Surabaya memiliki pusat bahasa di kampus masing-masing. Saya belum bisa memastikan apakah setiap kampus di Surabaya melayani masyarakat umum untuk mengambil tes di tempat mereka. Hanya saja... saya pernah berkunjung dan memastikan beberapa kampus berikut mau menerima masyarakat umum sebagai peserta tes.

26/03/2018

Matematika dalam Bacaan Fiksi


sumber gambar
Bacaan fiksi terlihat lebih menarik daripada bacaan nonfiksi. Tengok saja para pembaca buku di Instagram atau bookstagrammer , mereka lebih sering memposting buku bergenre fiksi daripada nonfiksi. Entah itu bacaan bertema petualangan, fantasi, misteri, atau jenis lainnya. Cerita rekaan di luar kehidupan nyata – atau mirip kehidupan nyata – nampaknya bisa menarik banyak pembaca dibandingkan paparan teks yang menjemukan dalam buku-buku nonfiksi. Pun tidak sedikit pembaca yang menjadikan bacaan fiksi untuk rehat dari kesibukan sehari-hari.

Kemudian, apakah pelarian pembaca ke dunia ‘tak sebenarnya’ dalam cerita-cerita fiksi ini tidak bermanfaat? Perlu studi lebih lanjut untuk membahas ini. Apalagi ketika pendapat saya tentang bacaan fiksi tidak bermanfaat bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Ada beberapa orang meyakinkan saya bahwa bacaan fiksi mampu mengasah imajinasi atau kemampuan pada otak kanan manusia. Sebagian lagi berujar bahwa dengan membaca cerita fiksi, kegiatan ini bisa memperkaya kosa kata pembacanya, belajar mengetahui alur dan keruntutan cerita, serta dapat mengambil pelajaran tertentu dari cerita. Tentu, pembaca perlu melahap banyak buku terlebih dahulu untuk mengambil manfaat yang terakhir.

17/03/2018

Jadilah admin yang bertanggung jawab


Kurang lebih 10 tahun yang lalu, beberapa rekan dan saya tertarik untuk melibatkan teknologi dalam penelitian untuk tugas akhir. Tentu, keinginan itu terinspirasi dari perkembangan internet yang begitu pesat dan menjajikan feedback cepat dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran, siswa memerlukan feedback dari guru tentang benar atau tidaknya suatu pembahasan soal berkaitan dengan konsep tertentu secara cepat. Hal yang bisa ditawarkan dengan bantuan teknologi 'kekinian'. Misal ketika mengerjakan sepuluh soal pilihan ganda, siswa dapat mengetahui berapa skor yang mereka peroleh segera setelah menyelesaikan soal yang ada dari suatu software atau website tertentu.

Hal lain yang bisa ditawarkan teknologi untuk pembelajaran adalah mudahnya pengulangan. Tidak dapat dipungkiri, tiap siswa memiliki kemampuan daya serap yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ada siswa yang paham ketika guru menjelaskan materi dalam sekali penjelasan, tapi tidak sedikit siswa yang memerlukan beberapa kali pengulangan. Dengan teknologi, berupa video pembelajaran, siswa mampu belajar dengan mengulang-ulang video tentang materi tertentu sampai mereka paham. Lagi-lagi, teknologi menawarkan kemudahan dalam mengakomodasi kecepatan pemahaman siswa yang beragam.

27/02/2018

Review Buku: Fighting, Son Seng Nim!

[Sinopsis] Zona nyaman Fatima seketika terenggut. Di tahun kelimanya bekerja, dia dimutasi ke sekolah cabang. Terpaksa tinggal jauh dari calon suami serta sahabat. Dia dihadapkan pada lingkungan dan rekan baru. Segalanya mendadak canggung dan asing baginya. Namun, di titik ini pula Fatima menemui pendewasaan. Di tengah liukan kisah cintanya dengan Angga yang tak jua berujung di pelaminan, Fatima terpanggil untuk terlibat lebih jauh dalam permasalahan salah satu anak didiknya. Satu tindakannya yang lantas membuatnya bersinggungan dengan Lee Jun Ho.

Judul: Fighting, Son Seng Nim!
Penulis: Nuraisah H.
Penyunting bahasa: Muridatun Ni’mah
Penerbit: Indiva 
Cetakan: Pertama/September 2016
Ketebalan buku: 392 halaman
Kategori: Fiksi/Novel
ISBN: 978-602-1614-50-1

[Review] Perkembangan zaman memungkinkan kita bekerja dengan warga negara lain di belahan bumi manapun, termasuk di negara kita sendiri. Contohnya, salah satu setting latar dalam novel ini bertempat di beberapa TK Korea di Indonesia. Jenis cerita yang menurut saya efektif  untuk menarik minat pembaca tentang aktivitas di dalam sekolah asing di Indonesia. Asumsinya, kegiatan dan kebiasaan yang diajarkan pihak sekolah dalam cerita mungkin berbeda dengan sekolah negeri dan swasta 'lokal' bukan?

Tidak hanya kegiatan belajar mengajar dalam kelas, penulis juga menceritakan bagaimana tokoh utama berinteraksi dengan rekan pengajar yang berbeda kewarganegaraan dan keyakinan. Sebagai tokoh utama, Teacher Fatima dihadapkan pada perbedaan kebiasaan dan pola pikir rekan mengajarnya. Teacher Fatima dituntut untuk mampu berargumen dengan baik saat menolak ajakan rekan-rekannya untuk minum alkohol, mengonsumsi  masakan berbahan babi, dan memelihara anjing dalam asrama guru. Singkat cerita, pembaca bisa ikut merasakan bagimana seorang muslimah bersikap terhadap pemeluk agama lain, tanpa mengabaikan ajaran yang ia anut.

Hubungan Teacher Fatima dengan siswa-siswi dan walimurid juga ditampilkan dengan rapi oleh penulis. Interaksi keseharian Teacher Fatima dengan tiap siswa, dan saat ia mendamaikan seorang siswi dengan ayahnya cukup menunjukkan bagaimana seorang guru berupaya tidak sekedar mengajar tapi juga mendidik siswa-siswinya. Selain itu, detil kegiatan dan karakter tiap siswa juga mampu membuat saya membayangkan apa yang berbeda dari siswa pada TK dalam cerita dengan TK 'lokal' di dekat rumah saya. Hanya saja, keberadaan detil cerita bagaikan sebuah koin dengan dua sisi berbeda. Detil tersebut tidak hanya membuat kita tahu hal-hal yang berkaitan dengan budaya Korea, tapi juga menyadari bahwa cerita yang berkaitan dengan konflik pribadi Teacher Fatima berjalan agak lambat.

Sepanjang cerita, novel ini menampilkan kisah seorang muslimah yang sedang berproses menuju level keimanan yang lebih baik. Teacher Fatima sendiri bukanlah sosok muslimah yang sempurna di awal cerita. Ia masih galau ketika ingin menikah dengan kekasihnya yang berbeda agama. Beragam upaya dilakukan kedua calon pengantin demi mengantongi restu keluarga sampai datangnya sebuah peristiwa. Teacher Fatimah kehilangan seseorang yang paling penting dalam hidupnya. Kejadian tersebut rupanya mengusik sanubari Teacher Fatima untuk semakin mendalami keyakinan yang selama ini ia peluk. Ia semakin menyadari bahwa segala permasalahan yang membelitnya selama ini sebenarnya telah ada jalan keluarnya. Rangkaian perubahan sikap dan pola pikir inilah yang menunjukkan bagaimana Teacher Fatimah berhasil hijrah ke arah yang lebih baik.

“Orang tidak perlu takut mengungkapkan kebenaran” – hal. 356

Tidak mudah bagi seorang muslim dan muslimah mengamalkan apa yang sesuai dengan ajaran agama di tengah komunitas yang berbeda iman, sikap penolakan pihak-pihak tertentu pasti ada. Seperti halnya Teacher Fatima saat menghadapi beragam sikap antipati dari sekelilingnya, ia tetap tegak berdiri dan membulatkan tekad untuk menjalani kehidupan sesuai ajaran Islam. Sebuah sikap yang perlu dimiliki oleh seluruh umat Islam dewasa ini.

Secara keseluruhan, novel ini menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku tapi tetap mudah untuk diikuti. Terdapat juga kalimat-kalimat dalam Bahasa Korea yang bertebaran. Namun jangan khawatir kesulitan memahami jalan ceritanya. Ada footnote yang memadai tentang arti dari Bahasa Korea yang digunakan. Selebihnya, ingin tahu lebih banyak bagaimana perjalanan seorang muslimah membangun keimanan di tengah komunitas yang tak seiman? Novel Fighting, Son Seng Nim! bisa menjadi salah satu bacaan ringan bertema keimanan.


Review ini diikutsertakan dalam kegiatan Review Campaign & Giveaway #AkuCintaBuku2 bersama IndivaMedia Kreasi dan Riawani Elyta

25/12/2017

Throwback 2: Tour pendek untuk para calon siswa

Halo, kali ini saya ingin membagi pengalaman dalam menemani kerabat mencari sekolah. Kalau kita beranggapan bahwa kemampuan akademik berada di urutan pertama dalam mencari sekolah, itu  bukanlah hal yang salah. Bisa dibilang ini adalah prinsip mendasar untuk menentukan ‘sebaiknya’ seseorang itu bersekolah ‘dimana’ agar ia dapat menyerap informasi dan terampil sesuai kemampuan yang ada. Idealnya, bersekolah sebaiknya tidak menjadikan dia merasa tertekan, frustasi, dan kurang nyaman untuk belajar. Itu idealnya, realitanya…banyak hal yang perlu diperhatikan juga ketika memilih sekolah seperti jarak tempuh, kondisi lingkungan sekolah, dana, dan hal yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Selanjutnya... apakah dalam tulisan kali ini saya akan berbagi tentang apa saja yang diperlukan seseorang memilih sebuah sekolah? Tidak. Bahasannya akan terlalu luas dan perlu banyak pihak yang perlu diamati. Saya hanya menuliskan satu kegiatan yang menurut saya bisa menambah sedikit motivasi seseorang dengan cara mengunjungi beberapa sekolah lanjutan. Kegiatan ini saya lakukan ketika adik sepupu saya berada di kelas IX.

23/12/2017

Throwback I: Ada Voucher belanja buku di event Big Bad Wolf Surabaya 2017

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang apa saja yang bisa saya temukan dalam acara Big Bad Wolf (BBW) Surabaya 2017. Mulai dari bagaimana mendapatkan tiket preview sale sampai fasilitas apa saja yang  ada dalam acara tersebut. Nah, ternyata.. saya masih mempunyai cerita lain tentang acara ini yaitu adanya hadiah voucher belanja buku di event BBW Surabaya 2017. Wow, bagaimana mendapatkannya?

Sebenarnya ada beberapa cara mendapatkan voucher belanja buku dalam event ini, tapi saya akan menuliskan cara melalui jalur blogger saja. Oke, yuk ikutin cerita lain sebelum Preview Sale dan berkesempatan mendapat voucher belanja buku di event BBW ini.

Tiket Preview sale BBW Surabaya 2017

20/12/2017

Apa manfaat menulis?

Semakin ke sini, seringkali saya merasa ragu untuk memosting tulisan dalam blog ini. Padahal blog ini ‘punya’ saya sendiri, tapi entah kenapa saya agak merasa ‘eman’ kalau sekedar menuliskan ‘curcol’ kehidupan sehari-hari tanpa arti. Rasanya kurang bermakna bila isi yang ada kurang membantu banyak orang yang tidak sengaja terdampar di blog ini.

Beberapa rekan blogger telah ‘mengupgrade’ konten blog mereka dari cerita kehidupan sehari-hari menjadi hal-hal yang menjual. Alhasil, tulisan yang ditampilkan dalam blog mereka pun sarat informasi tentang produk tertentu. Ada hal yang ‘mencerahkan’ bagi pembaca tertentu, sekaligus mampu memberikan penghasilan bagi para penulisnya. Contoh lainnya lagi, ada teman yang memutuskan untuk memisahkan blog pribadi dengan sesuatu – yang menurutnya, hal yang lebih serius – dalam dua blog yang berbeda. Yang akhirnya membuat saya bertanya pada diri sendiri “Apakah saya tertarik mengikuti jejak salah satu dari kedua golongan yang ada?” Seketika saya menjawab, “Sepertinya belum.”

07/11/2017

Mau install ulang windows? Coba 'safe mode' dulu ya..

Pagi ini, salah seorang tante saya meminta tolong untuk mengedit dan mencetak beberapa lembar dokumen microsoft word dari sebuah flashdisk. Bukan sebuah ritual asing bila saya me-scan setiap flasdisk yang menancap. Berisik, itulah bunyi yang dikeluarkan salah satu antivirus ketika mendapati beberapa file yang mencurigakan. Tiba-tiba beberapa notifikasi dari salah satu program antivirus ternyata sudah memenuhi  layar laptop. Bahkan ketika antivirus kedua sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik, antivirus pertama ini seakan tetap ceria dan  berbahagia menampilkan beberapa notif peringatannya. Padahal saya harus segera membuka file, mengedit, dan mencetaknya. Iya, sang tante pengen segera berangkat. :D

Setelah mencetak dokumen yang ada, tersisalah dua notif antivirus pertama yang enggan di-close beberapa kali. Bahkan programnya pun sangat bandel untuk dibunuh lewat tab processes-nya task manager. Akhirnya, saya pun mengambil cara kuno dan lumayan beresiko, cabut baterai laptop.

Masalah pun menghampiri si laptop. Dia ‘ngambek’ menampilkan si logo windows saat dinyalakan. Loading melulu. Fix… cabut baterai bukan termasuk solusi. Kemudian, saya juga membayangkan kemungkinan lain kalau si laptop ini minta di-instal ulang. Oh.. cara itu perlu waktu yang lama. Menginstal windows 7-nya saja perlu waktu 2 jam, belum lagi memartisi hardisk internal, dan memasang (atau bahkan mengunduh dahulu) driver perangkat laptop. Kalau laptop dibawa ke service juga minimal perlu ‘opname’ selama tiga hari. Wah lebih lama lagi kan?

03/10/2017

Big Bad Wolf Surabaya 2017


Halo pecinta buku dimanapun kalian berada... Big Bad Wolf (BBW) datang lagi lho di kota Surabaya. Kalian sudah berkunjung ke event ini apa belum??? Kalau saya sudah dua kali lho. Saat Preview sale dan hari ke tiga setelah preview sale. Beruntung saya dapat tiket preview sale lewat jalur blogger. Yeay!!! Terus.. apa saja ya yang ditawarkan event BBW kali ini?
https://www.bigbadwolfbooks.com/id/

1. Preview sale

Tiket Preview sale
Tidak berbeda dengan tahun sebelumnya, event ini tetap mengadakan preview sale sehari sebelum acara resmi dibuka. Yap, acara yang dibuka sampai pukul 23.00 WIB ini hanya dapat dikunjungi oleh para pemegang tiket preview sale. Kalau tahun lalu tidak ada pemeriksaan tiket preview sale, kali ini benar-benar ada pemeriksaan secara ketat. Satu buah tiket dapat digunakan untuk dua orang pengunjung dewasa. Seperti tahun sebelumnya, saya mengajak adik saya untuk berburu buku di event previw sale kali ini. Bedanya… saya tidak mengikuti preview sale dari awal pembukaan, tapi sekitar pukul 16.00 WIB. Syukurlah pada jam sekian suasana hall Jatim Expo tidak terlalu padat pengunjung karena beberapa petugas benar-benar menjaga pintu masuk event ini.
Terapi Berpikir PositifTerapi Berpikir Positif by Ibrahim Elfiky
My rating: 4 of 5 stars

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian” – [Al-Ahzab: 21]

Ada beragam cara yang dapat dipilih manusia untuk memperkaya ilmu pengetahuannya. Ada yang mendapatkan ilmu dari pengalamannya sendiri, ada yang mendapatkan ilmu dari penuturan pengalaman orang lain, dan ada yang membaca pengalaman orang lain dalam sebuah buku. Seperti halnya ilmu berpikir positif, saya juga menyempatkan diri untuk membaca buku-buku bertema ‘self help’ dan tentu saja terus mengamati orang-orang positif di sekitar saya. Sayangnya, tidak semua penjelasan dalam buku-buku bertema demikian bisa meyakinkan saya sebagai pembaca untuk mengikuti saran atau argumen yang ada. Apalagi kalau paparan-paparan yang ada hanya sekedar teori, nasihat, dan kurangnya ‘sentuhan’ pengalaman penulis itu sendiri. Ditambah, kadang contoh kisah yang diberikan tidak pernah ada dalam kehidupan pembaca.

Sekitar 2 atau 3 minggu yang lalu, datanglah sebuah paket yang berisi buku ini. Alhamdulillah, rupanya saya dipercaya untuk mengulas buku ini selama beberapa hari di Instagram. Secara judul, buku ini memiliki judul yang sama dengan buku saya yang lain. Alhasil saya sempat merasa was-was akan isi yang akan disampaikan dalam buku ini. Namun setelah membaca beberapa puluh lembar pertama, ternyata saya tertarik dengan beberapa ide yang ditawarkan oleh penulis.

Buku ini berisi lima bab yang membahas tentang apa itu kekuatan pikiran, pikiran negatif, berpikir positif, strategi berpikir positif, dan sepuluh wasiat berpikir positif. Kesemuanya dilengkapi dengan kisah yang mendukung tiap-tiap bab. Secara keseluruhan, buku ini termasuk jenis pop. Cocok untuk dibaca siapa saja yang ingin belajar mengendalikan pikiran sendiri. Tidak terlalu ‘berat’ dalam pembahasan teori, tapi cukup memancing siapa saja yang ingin mempelajari hal-hal yang berkaitan dalam buku ini lewat buku lainnya. Terlebih, untuk siapa saja yang pernah belajar teori pemrosesan informasi, buku ini pasti mudah untuk kalian cerna.

03/08/2017

Masihkah was-was berbelanja buku secara online?

Kemarin, ada sebuah toko buku online yang mempunyai penawaran menggiurkan. Beberapa rekan di instagram berujar bahwa pemilik toko online tersebut juga memiliki akun toko buku online yang lain di Instagram. Sebutlah kedua toko itu adalah toko A dan toko B. Menariknya, tiap sebulan sekali, kedua toko ini berani menjual produknya hanya setengah harga dari harga pasaran. Tentu saja buku yang dijual terbatas dan berasal dari satu penerbit saja. Nah, sudah ada bayangan nama toko online-nya kah? Oke, cukup simpan dalam benak ya… karena kita tidak sedang berpromosi nama toko di sini. Seandainya ada yang masih penasaran toko apa ini, hubungi saya via japri saja ya hehe..

Promo seperti itu tidak hanya terjadi di dua toko online tersebut. Semakin menjamurnya toko buku online, tidak sedikit di antara mereka mencoba menarik calon pelanggan dengan berbagai cara. Mulai dari beragam variasi potongan harga sampai subsidi ongkos kirim. Sayangnya masih ada hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk berbelanja buku secara online; kepercayaan. Lalu, apakah ketakutan ini akan mencegah kita berbelanja buku secara online? :D

01/06/2017

Resensi Buku: My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry




Judul buku: My Grandmother Asked Me to Tell You She’s Sorry
Penulis: Fredrik Backman
Penerjemah: Jia Effeandie
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama/2016
Ketebalan buku: 489 halaman
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-385-164-5
Rate: 4 of 5 










Blurb

Pernahkah kau merasa ingin pergi dari dunia nyata? Saat kau terasingkan, dan orang-orang di sekitarmu tampak tak memerdulikanmu, bahkan seakan membencimu?

Elsa sering merasa demikian. Misalnya, saat teman-teman menghukumnya hanya karena tidak meyukai syal yang dikenakannya. Atau saat Elsa bicara jujur, mereka mencemoohnya. Sangat jelas mereka membenci Elsa. Itu semua karena Elsa berbeda dari anak lainnya.

Elsa pernah bertanya, apakah menjadi berbeda itu salah? Nenek berkata bahwa menjadi berbeda itu bagus, dan teman-temannya saja yang bodoh. Lalu nenek berkisah tentang dunia yang berisi pahlawan dan mekhluk negeri dongeng. Negeri istimewa yang hanya bisa dikunjungi anak-anak istimewa. Semenjak itu, Elsa sering pergi ke negeri dongeng kapan pun dia mau, bersama Nenek, tentunya.

Sampai suatu saat, Nenek tak bisa lagi menemani. Nenek harus pergi, sangat jauh, sendiri. Sebagai permintaan terakhir, Nenek mengirim Elsa untuk menjalani sebuah misi. Misi khusus yang hanya sanggup dijalankan oleh Elsa dan kelak bisa mengubah jalan hidup siapa pun yang terlibat di dalamnya.


Menurut  saya, bagian cover buku ini cukup mewakili apa yang tertulis dalam buku ini. Hujan dan anak kecil berpayung, cocok untuk menggambarkan Elsa yang sedang berusaha melewati masa berkabung atas kematian neneknya. Ditambah bagian belakang cover buku juga memberikan sedikit petunjuk bagaimana Elsa di tengah teman sebayanya. Sesuatu yang cukup menimbulkan tanda tanya, misi apa yang hanya sanggup disampaikan oleh Elsa.

Karakter

Hampir sepertiga buku berisi detil dan deskripsi para karakter yang berperan dalam cerita ini. Tidak hanya Elsa dan neneknya saja, tetapi seluruh warga yang tinggal dalam gedung flat yang sama dengan Elsa dibahas. Saya sempat ‘menuduh’ penulis ini tidak fokus pada cerita Elsa dan Nenek karena ‘saking’ banyaknya karakter yang bertebaran. Namun bertambah halaman, saya semakin paham bahwa Elsa harus menyampaikan pesan dan permintaan maaf nenek untuk mereka. Tentu saja predikat karakter yang kuat dalam cerita ini tetap ‘dipegang’ oleh Elsa dan Neneknya. :D
"Bolehkah aku meminjam telepon Nenek?"

"Untuk apa?"
"Untuk memeriksa sesuatu."
"Dimana?"
"Online."
"Kau menginvestasikan banyak waktumu di internet."
"Maksud Nenek, 'menghabiskan'."
"Maaf?"
"Maksudku, bukan begitu cara memakai kata 'investasi'. Nenek tidak akan bilang, 'Aku menginvestasikan dua jam membaca Harry Potter dan Batu Bertuah', kan?"
Nenek hanya memutar bola mata dan menyerahkan teleponnya kepada Elsa. 
"Pernahkah kau mendengar tentang seorang gadis yang meledak karena terlalu banyak berpikir?" -- (hal.7)

Di awal cerita, usia Elsa belum genap delapan tahun. Ia berasal dari keluarga ‘broken home’, dan memiliki perbedaan kemampuan kognitif di antara teman sebaya. Itulah mengapa ia hanya akrab dengan neneknya. Selain itu, wikipedia adalah salah satu situs favorit Elsa untuk mengakses informasi yang belum ia ketahui. Pendek kata, Elsa cerminan generasi Z yang menggunakan teknologi secara efektif. Bukan untuk bersosial media, tetapi untuk memahamkan dirinya atas sesuatu yang belum ia ketahui. Bahkan tidak jarang, Elsa mengoreksi bagaimana Neneknya berbicara.

Kalau di negara kita, usia sekian sudah paham ‘cerita si kancil anak nakal’ atau cerita nusantara yang lain, maka Elsa adalah versi ‘modern’ yang membaca Harry Potter di masa kanak-kanaknya. Ia juga mengenal Spiderman, X-Man,  dan beberapa cerita fiksi yang saya pun belum pernah membaca atau menonton filmnya. Tentu saja, kebiasaan membacanya ini bukan hal lazim di antara teman-teman seusianya. Ia pernah berkelahi dengan teman sekelasnya hanya karena Elsa ingin memilih memakai kostum Spiderman. Padahal, lazimnya anak perempuan akan memilih kostum putri, bukan Superhero. 

Meskipun Nenek terkenal nyentrik dan berperilaku tidak sesuai usianya – mereka menyebutnya terlalu bersemangat, sewaktu muda nenek adalah seorang dokter bedah. Tidak sekedar dokter yang berpartisipasi di sebuah rumah sakit, ia juga pergi menyelamatkan korban musibah tsunami dan peperangan. Di sanalah nenek bertemu dengan orang-orang yang ditolongnya. Cerdas dan berani, itulah gambaran Nenek. Tak berlebihan bila ia mewariskan bakatnya pada Elsa.

Karakter lain yang tak terduga begitu banyak dalam novel ini. Beberapa istilah juga digunakan untuk menyebut para penghuni flat dalam dunia dongeng. Nenek dan Elsa menyebut seekor anjing besar sebagai ‘Teman Kita’ atau ‘Wurf’, sesosok lelaki yang dikenal sebagai ‘Monster’ atau ‘Wolfheart’ ,dan banyak istilah lain yang mewakili para penghuni flat dalam dunia dongeng.

Plot

Cerita ini berselang seling antara dunia nyata dan dunia dongeng dalam ingatan Elsa. Selama hidup, Nenek menceritakan tokoh-tokoh rekaan dalam dunia 'Setengah-Tak-Terjaga'. Teruntuk pecinta fantasi, mungkin keberadaan cerita demikian bisa cukup menghibur. Sayangnya, saya agak terganggu dan pusing saat mencoba memahami peralihan masa kini – ingatan dongeng – masa kini lagi. Peralihan alur maju dan mundurnya ini tidak terpisahkan dengan jelas. Tergantung bagaimana Elsa ingin mengingat nama atau peristiwa tertentu dalam dunia dongeng. Cerita bisa beralih dunia dengan tiba-tiba.

Konflik

Tiap mengantarkan satu surat dari nenek untuk penerimanya, Elsa pasti akan bertanya, “Apa yang ditulis oleh Nenek?” Hampir semua penerima surat akan berujar, "Nenekmu meminta maaf." Namun Elsa bukan tipikal mudah puas atas jawaban yang diberikan oleh lawan bicaranya. Mengingat bagaimana kritisnya Elsa, dia pasti akan bertanya sampai akar. Ia selalu memastikan penerima surat benar-benar menyampaikan apa yang dituliskan Nenek untuk si penerima. Lalu, apakah para orang dewasa itu benar-benar langsung mau bicara? Tentu tidak, tidak jarang perdebatan sengit terjadi ketika para penerima surat merasa tidak perlu membagi pesan tertulis kepada Elsa. Tidak hanya diusir dan dimarahi, Elsa pun pernah hampir diculik karena berkaitan dengan perbuatan Nenek di masa lampau. Suatu kondisi yang cukup mengecoh saya di penghujung cerita.

Rekomendasi

Saya membaca beberapa reviewer merekomendasikan bacaan ini untuk segala usia. Mungkin saya akan menambahkan, bacaan ini cukup berat untuk dibaca anak-anak. Paling tidak, para calon pembaca sudah mengerti novel Harry Potter dan sejenisnya, mengingat Elsa sering mengambil contoh peristiwa dalam novel-novel tersebut. Tidak semua anak (apalagi di Indonesia) bercakap-cakap seperti Elsa; bercakap-cakap secara kritis. Mungkin, ada Kirana (balita yang menjadi model buku 'Happy Little Soul') yang saya duga bisa menjadi seperti Elsa suatu saat nanti, versi yang lebih ‘Indonesia’ tentunya. Elsa, cukup oke bila dijadikan model dalam melatih berbicara dan berterus terang, tetapi belum memperhatikan etika dalam berbicara dengan orang yang lebih tua. Sesuatu yang kurang berkenan di negara kita. Tentu saja kondisi Elsa 'berbeda'. Bagaimanapun juga, kalau buku ini dibaca anak… siapa saja yang mendampingi perlu sadar dulu kalau buku ini adalah fiksi dari 'western country'. :D