23/05/2017

Bahasa Kode

Ngomong-ngomong nih ya.. siapa yang pernah merasa tersindir atau bahkan dituduh tidak peka atas ucapan (atau bahkan sekedar status sosial media) seseorang? Nah, kalau pernah.. Tos dulu yuk... kita (mungkin) sama. 

Iya, tersindir atau bisa juga bersikap 'tidak peka' erat kaitannya dengan yang namanya bahasa kode. Bukan kode-kode dalam pemograman komputer ataupun kegiatan pramuka lho ya.. Tapi bahasa dalam bentuk ucapan atau tulisan yang mempunyai makna lebih dari satu arti. Bisa berupa simbol, ungkapan, pengandaian, sindiran dan apapun yang terkesan 'nyastra' atau basa-basi, bisa dimasukkan dalam kategori bahasa kode. Sesuatu yang bersifat samar, tidak terlalu lugas, dan bisa bermakna ambigu. Bahkan, bahasa kode tidak jarang menuntut pendengar (atau pembaca) mampu  menangkap harapan yang seringkali tak terkatakan dan tertulis secara langsung. Bak cenayang, kita dituntut mampu menerawang apa maksud di balik bahasa kode. Susah? Banget.

Nah sayangnya nih ya..bahasa kode rupanya tidak hanya dipakai mereka yang berusia remaja atau memasuki awal dewasa. Beberapa orang yang berada di sekeliling saya ternyata mahir sekali berbahasa kode. Beberapa arti bahasa kode yang saya ketahui antara lain:

Memperhalus kata


Orang-orang yang lebih senior dari saya ternyata suka sekali dengan bahasa kode. Hasilnya, saya kesulitan untuk segera mengerti apa makna dari kata yang dimaksud. Mungkin hal ini dikarenakan saya suka mengartikan sebuah kata dalam beberapa kemungkinan arti, cukup untuk mencegah saya bersikap 'kemero' atau sok tahu.

Pernah suatu ketika, saat saya mengantar adik mengikuti ujian masuk PTN di kota lain, paman saya menelpon mengabarkan bahwa nenek saya sudah pulang. Nah saat itu saya berada dalam bemo, berdesakan, dan menjadi tontonan seisi bemo ketika berbicara melalui telepon genggam. Maklum, beda kota pasti ada perbedaan logat, dan itu mungkin bisa jadi tontonan yang menarik bagi mereka. Saya pun merasa perlu mengakhiri percakapan dengan paman saya yang menyatakan bahwa nenek saya sudah pulang. 'Ya' itu saja jawaban saya sambil berpikir 'Oh, syukurlah beliau pulang. Tidak sampai menginap di rumah sakit'. Sebelumnya, kadang nenek saya suka mengunjungi rumah sakit ketika merasa tidak sehat. Saat itu saya sempat membayangkan hal selain rumah sakit sebenarnya, tapi saya halau pikiran yang saya kira negatif itu. Toh orangtua saya tak mengabari apapun. Namun ketika saya dan adik dalam perjalanan pulang keesokan harinya, ayah saya meminta kami langsung ke rumah nenek. Tiba di halaman rumah nenek, terlihatlah tumpukan kursi plastik. Kursi plastik yang biasa digunakan RT bila ada acara warga seperti rapat atau....kegiatan melayat! Deg!! Jangan-jangan... 'Pulang' yang dimaksud paman saya adalah 'Berpulang ke hadirat-Nya'. Olalah... Saya tak sempat ikut perawatan jenazah ya T.T

Ternyata.. orangtua saya sangat paham bahwa saya dan adik sedang perjalanan ke luar kota. Mereka tak ingin saya segera balik ke Surabaya setelah mengantar adik. Menurut ibu saya, paling tidak... seminggu sebelumnya...kami sudah bertemu dengan nenek, yang tentu saja sudah masuk kondisi '40 hari menjelang ajal'. Hanya doa yang bisa saya panjatkan saat itu sampai sekarang.

Kembali ke paman saya tadi. Nampaknya ia ingin segera mengabari saya dengan 'caranya'. Bahkan di kemudian hari, kalau ada 'gesekan' dengan kerabat.. beliau lah orang pertama yang menjelaskan panjang lebar hal-hal yang tak mampu disampaikan kerabat saya yang lain. Mungkin beliaulah yang sadar kalau perlu bahasa 'lugas' untuk membuat saya segera paham atas apa yang terjadi. Ini lebih baik dibandingkan mereka yang mendiamkan saya karena merasa saya tidak layak untuk mendengar permasalahan yang ada. ^^

Memanipulasi tindakan

Nenek saya yang lain pernah menelepon sambil berujar, "Iki lho gedhange mateng selok bosok"  - yang artinya ini pisangnya matang keburu busuk. Kalau diartikan lebih jauh, saya perlu mengajak ayah saya mengunjungi nenek untuk menebang pisang dari pohonnya karena telah matang. Iya, saya tidak punya kakak lelaki dan tidak mahir dalam perkara 'tebang-menebang'. Nah bahasa yang ini agak mudah diterjemahkan karena Nenek yang ini (dan beberapa kerabat yang lain) ternyata sangat suka berbicara dengan gaya demikian. 

Kalau diperhatikan, tidak hanya kerabat yang berbuat demikian. Banyak orang dewasa pegawai pemerintah atau orang-orang yang sebaya dengan saya ternyata  juga suka berbicara seperti ini. Mungkin kalau kerabat berujar, "Aduh kakiku sakit", yang bisa diartikan "tolong pijat kakiku dong" itu adalah hal yang lumrah karena masih keluarga. Namun kita perlu berhati-hati bila yang berujar demikian adalah orang yang baru dalam kehidupan kita. 

Seperti halnya ketika mengurus surat kematian sebagai syarat mengurus sertifikat tanah di BPN, saya perlu ke kecamatan meminta tanda tangan Pak Camat. Ada seorang perwakilan bergelar sarjana hukum yang menjembatani antara warga dengan Pak Camat. (*Wah ekslusif sekali ya? banget!!!) Ceritanya, bapak ini memeriksa dengan detil antara apa yang terketik di kertas dengan bukti beberapa fotokopian kartu keluarga di sampingnya. Bak dosen yang memeriksa ketelitian mahasiswanya, saya mengacungkan jempol untuk bapak ini. Sayangnya, setelah memeriksa beliau pun keluar 'bahasa kode'-nya. 

"Karena tanda tangan ini berhubungan dengan perkara hukum dan menuntut tanggung jawab besar, maka dimohon untuk membayar biaya administrasi." Lalu saya pun berujar, "Berapa itu?" Pertanyaan saya pun dijawabnya, "Seikhlasnya." Nah tidak adanya patokan harga yang dinyatakan secara jelas sebagai biaya yang dikenakan, membuat saya bertanya, "Kalau saya melakukan transfer di bank, akan ada biaya administrasi yang dikenakan. Misal Rp.5000,- Apa benar tidak ada ketentuannya?". Lalu si bapak berkata, "Ya kita tahu sama tahu lah berapa enaknya." Padahal ya... sungguh saya tidak tahu berapa uang yang dimaksud. Ini baru tingkat kecamatan. 

Di BPN, hal-hal semacam bahasa kode dan drama pun juga mewarnai pengurusan sertifikat tanah. Bahkan bisa lebih lama dan panjang urusannya karena berurusan dengan banyak loket, muka datar para pegawai yang tak takut dosa, serta pemandangan calo yang tak asing di mata kita. Hal yang membuat kita harus mengendalikan emosi secara baik dan ikut bermuka datar juga kalau ingin berdebat kusir dengan mereka. Yakinlah, tetesan air mata dan emosi yang meluap-luap tak akan mempan untuk meluluhkan hati mereka. Kuncinya, berdoa dan terus bertanya tanpa merasa terpengaruh oleh mereka. Awal tahun ini, sepertinya sudah lebih baik pelayanannya di kota saya. Meskipun ya.. tukang parkir pernah bilang, "Hanya kalau ada sidak saja. Pernah ada orang ngurus sertifikat sampai 3 tahun belum jadi. Bolak-balik." Mudah-mudahan tambah baik aja pelayanannya. 

Tidak menyenangkan, itu penilaian saya atas orang-orang yang suka bahasa kode untuk memanipulasi pendengar atau pembaca status tertentu. Sesenior apapun orang yang bertabiat demikian, tetap akan menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan. Mereka adalah tipe-tipe orang yang suka berpolitik (bukan parpol-parpol pemilu lho ya :D) dalam keseharian mereka. Jadi tidak perlu 'baper' kalau bertemu jenis orangtua seperti ini, harus hemat tenaga dan lapang dada. Lebih lihai lagi kalau kita paham taktik permainan kata yang mereka katakan. Susah? Sepertinya masih bisa dipelajari hehe..

King (or) Queen of Drama

Kebanyakan para pelaku bahasa kode berusia muda atau dewasa awal juga termasuk raja atau ratu drama. Kehidupannya penuh pencitraan. Status dan ucapannya bermakna ambigu dan kalau ditanya kebenarannya akan mengelak sejadi-jadinya, atau berbelit-belit penjelasannya. Apa orang seperti ini ada? Ada. :D

Nah sepertinya itu saja beberapa cerita yang berkesan dalam kehidupan saya mengenai bahasa kode. Kalau kalian, pernahkah menemukan bahasa-bahasa kode yang cukup mengganggu di kehidupan sehari-hari?

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)