27/05/2017

Bukan sekedar menasihati

Saat saya sering duduk-duduk dengan (almh) nenek saya di ruang tamu saat beliau masih ada, beliau sering bercerita tentang hal-hal yang membuat saya berujar  dalam hati “kenapa nasihat nenek tidak bisa lebih tinggi?” Sesuatu yang pernah saya anggap, mengapa nenek menasihati saya hal yang tidak terlalu ‘muluk-muluk’? Pertanyaan yang akhirnya terjawab setelah saya bertambah tua :v

Suatu ketika adzan dhuhur berkumandang di hari jumat. Lewatlah seperti biasa jamaah masjid yang tak jauh dari rumah nenek di depan rumah. Beliau berujar, mudah-mudahan anak-anak dan cucu-cucuku semuanya sholat. Nggak seperti itu (sambil menunjuk kawanan orang dewasa yang tidak menuju masjid dengan dagunya. Kawanan yang kami ketahui juga berasal dari keluarga muslim). Saat itu saya hanya seorang anak kecil yang belum tahu peliknya dunia orang dewasa membatin, ‘Mengapa nenek tidak menasihati mereka? Bukankah kita itu dianjurkan untuk saling menasihati? Bukannya menasihati termasuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan? Mengapa nenek hanya berharap keluarga atau turunannya saja yang baik? Mengapa tidak berharap seluruh dunia berbuat baik?’


Bertambah usia, saya kembali tinggal dengan orang tua saya di suatu desa di Sidoarjo. Iya, saya menyebutnya desa karena belum banyak pendatang yang tinggal disana. Sepi, dan cenderung mistis. :D Sebagai penduduk baru, tentu saja tidak mudah untuk beradaptasi di desa itu. Masih ingat di dekat rumah orangtua saya itu ada sebuah pos gardu yang digunakan untuk ronda malam. Berdinding batu bata, dilengkapi dengan kentongan kayu seukuran manusia dewasa berfungsi untuk menginformasikan berita terkini atau mengumpulkan warga saat kentongan dibunyikan. Saya pun sempat berusaha menghafal irama ketukan kentongan untuk mengetahui informasi apa yang dibagikan. Tentu, informasi adanya warga yang meninggal tidak akan sama dengan berita adanya kemalingan. Iramanya beda. Namun, ada hal yang tidak menyenangkan berkaitan dengan pos gardu ini.

Dulu, pos gardu tidak selalu dipakai meronda. Seringkali dibiarkan kosong karena warga memilih enggan meronda di tengah malam. Situasi ini dimanfaatkan para pemuda untuk ‘kongkow-kongkow’ bermain kartu dan menenggak minuman terlarang. Pernah suatu ketika, ayah saya menegur mereka agar tak bermain di sana. Tidak hanya sekali tapi beberapa kali… karena merasa tak nyaman dengan kegiatan mereka. Lalu, apakah mereka segera insyaf? Tidak. Mereka melempar (maaf) kotoran manusia ke teras rumah kami. Itu juga tidak hanya sekali. Seolah-olah berkata ‘jangan urusi kami’.

Nah, itu urusan menasihati. Belum lagi urusan mengenai ‘bagaimana kita mengetahui seseorang benar-benar berlaku sesuai Al-Qur’an dan sunnah dalam kehidupan sehari-hari?’ , ‘Apakah seseorang bergelar sarjana keagamaan institusi tertentu merupakan jaminan?’ Pernah suatu ketika, keluarga kami mendapat musibah kedatangan maling. Salah satu motor raib entah kemana. Beragam kondisi yang menurut saya aneh sebelum musibah terjadi, cenderung saya abaikan karena saya anggap wajar. Apa itu? Saya menemukan bangkai ular yang digantungkan di pagar tembok belakang. Saya menganggap wajar, karena belakang rumah memang ‘barongan pring’ (sekumpulan pohon bambu), sebuah sungai yang cukup lebar, dan tentu saja masih ada sawah. Ular bukan hewan aneh yang lalu lalang saat itu. Sayangnya ada orang yang berujar bahwa itu adalah salah satu tanda rumah kami pernah di bawah kendali sihir. Sirep, begitu orang bilang. Waallahualam.

Satu persatu warga dan kerabat datang berkunjung menyampaikan rasa simpati dan ajaibnya disinilah saya bisa mengetahui ‘bagaimana mengetahui keimanan seseorang’. Tidak hanya satu orang yang menyarankan untuk mendatangi dukun. Mereka bilang, untuk melacak kejadian seperti ini, dukun mampu menerawang dimana motor berada dan menunjuk siapa pencurinya. Wow ajaib. Kalaupun nanti ketahuan dan pencuri ditangkap, memangnya motor pasti balik? Balik enggak, musyrik iya. Belum lagi, ada juga yang menawari cara jitu ‘menyiksa’ pelaku lewat ritual tertentu. Untungnya orangtua saya ‘keukeuh’ menolak secara halus saran-saran yang ada. Iya, dengan cara halus…karena para penasihat itu berusia senior dalam kehidupan. Paling tidak, peristiwa ini cukup berkesan bagi saya. (1) Sesuatu yang mengingatkan bahwa tak selalu yang beragama islam itu paham betul apa yang ia perlu pelajari. (2) Mengingatkan untuk memperbanyak sedekah. (3) Mengatasi kejadian itu pun harus dengan cara yang dibenarkan. (4) Rejeki pengganti dan (5) Musibah demikian sering terjadi di jam-jam manusia sering terlelap. Waktu yang sebaiknya digunakan untuk segera bangun dan beribadah.

Lalu apa hubungannya dua cerita saya dengan cerita nasihat dari nenek? Nenek ternyata tidak memperlakukan saya sebagai anak kecil ketika beliau berujar tentang harapan. Tidak berujar semacam, “Kamu harus mengubah semua orang yang tidak sholat menjadi sholat.” Malah harapan yang dikatakan secara langsung agar saya dan kerabat-kerabat saya tidak lalai dalam mendirikan sholat. Hal yang saya ketahui kemudian bahwa sholat merupakan salah satu ibadah yang tidak hanya dilatihkan pada anak tapi juga perlu ‘didoakan’ oleh orangtuanya agar para anak menjadi ahli ibadah. Sesuatu yang mengingatkan saya bahwa kemungkinan besar nenek saya selalu mendoakan seluruh anggota keluarga agar kami mampu mendirikan sholat. Lalu apakah orangtua dari remaja yang enggan sholat tak pernah mendoakan mereka? Who knows? Bisa jadi itu ujian tiap keluarga, seperti halnya Nabi Nuh dan Nabi Luth yang memiliki anggota keluarga ingkar. Itu kisah hidup Nabi, apalagi kisah hidup manusia biasa seperti kita.

Mungkin, nenek hanya membahas masalah ‘harapan sholat’ dan tidak menyinggung masalah kebajikan lain. Namun dari satu pendapat tentang harapan sholat itu sebenarnya ‘menyerempet’ ke harapan-harapan yang lain. Bertindak bebas dari TBK (Tahayul Bid’ah dan Khurafat) pun tak lepas dari keluarga bukan? Bila memang sudah keluar menjauh dari keluarga, masih ada teman dan lingkungan sekitar untuk membentuk pemahaman dan sikap yang ada. Perdebatan dan sikap enggan berubah akan ada bila kita bersitegang dengan ‘orang luar’ sepertihalnya cerita ayah saya. Jadi, apapun jenis perbuatannya.. nenek saya secara tak langsung mengingatkan untuk menjaga apa yang ada di dekat kita terlebih dahulu. Hal yang saya yakini ketika saya melihat begitu banyak orang enggan ‘diperbaiki’ ketika ada sejumlah ormas islam yang bergerak demi mengembalikan mereka ke jalan semestinya. Ormas yang memilih bergerak dengan tindakan dibandingkan saya yang hanya mampu membatin dalam hati saja.

Salam 1 Ramadhan 1438 H


No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)